BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Dalam setiap GBHN dan REPELITA selalu tercantum bahwa peningkatan mutu merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah diiaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku/bahan ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya.
Namun demikian berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai Sekolah Menengah relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Tawuran antar siswa kini sudah menjadi berita biasa. Jika dulu tawuran diikuti siswa-siswa SLTA di kota besar, kini sudah menjalar sampai ke SLTP di kota kabupaten. Dari dunia usaha juga muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi, kalangan SLTP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SLTP, kalangan SLTA merasa lulusan SLTP tidak siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Menengah, dan kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SLTA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan.
Kini juga muncul gejala lulusan SLTP dan SLTA banyak yang menjadi pengangguran di pedesaan, karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus membantu orang tuanya sebagai petani atau pedagang. Terkait dengan itu, studi Blazely dkk. (1997) melaporkan bahwa pembelajaran di sekolah cenderung sangat teoretik dan tidak terkait dengan lingkungan di mana anak berada. Akibatnya peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seakan mencabut peserta didik dari lingkungannya sehingga menjadi asing di masyarakatnya sendiri.
Dari komparasi intemasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat ke 112 dari 175 negara yang disurvai, tiga tingkat di bawah Vietnam. Survai the Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan Indonesia berada di peringkat ke 12 dari 12 negara yang disurvai, satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi the Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R 1999) melaporkan bahwa siswa SLTP Indonesia menempati peringkat 32 untuk ILMU ALAM dan 34 untuk Matematika, dari 38 negara yang disurvai di Asia, Australia, dan Afrika (Depdiknas, 2001).
Hasil penilaian terhadap HDt maupun hasil survai TIMSS-R 1999 dan PERC dengan 17 indikatomya, serta fenomena yang ditemukan di tanah air periu direnungkan secara sungguh-sungguh. Fakta itu menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Pada hal pendidikan yang bermutu merupakan syarat pokok untuk peningkatan mutu SDM dalam memasuki era kesejagatan. Sejarah menunjukkan negara yang memperhatikan mutu pendidikan ternyatamengalami perkembangan yang mengagumkan, seakan membuktikan bahwa hasil pendidikan berupa sumberdaya manusia yang bermutu, menjadi modal dasar yang sangat kokoh bagi perkembangan suatu negara. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah penyempurnaan yang mendasar, konsisten dan sistematik.
Untuk maksud tersebut, pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip dasamya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi), Pendidikan juga harus dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan, mampu dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan juga diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk memelihara diri sendiri, sambil meningkatkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan lingkungannya.
Di samping itu periu dikembangkan kesadaran bersama bahwa: (1) komitmen peningkatan mutu pendidikan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia, baik sebagai pribadi-pribadi maupun sebagai modal dasar pembangunan bangsa, merupakan langkah strategis pembangunan nasional, sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dan (2) pemerataan daya tampung pendidikan harus disertai pemerataan mutu pendidikan, sehingga mampu menjangkau seluruh masyarakat.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa sangat diperlukan pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yang secara integratif memadukan kecakapan generik dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problema kehidupan. Pendidikan haruslah fungsional dan jelas manfaatnya bagi peserta didik, sehingga tidak sekedar merupakan penumpukan pengetahuan yang tidak bermakna. Pendidikan harus diarahkan untuk kehidupan anak didik dan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran.
Namun demikian berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai Sekolah Menengah relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Tawuran antar siswa kini sudah menjadi berita biasa. Jika dulu tawuran diikuti siswa-siswa SLTA di kota besar, kini sudah menjalar sampai ke SLTP di kota kabupaten. Dari dunia usaha juga muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi, kalangan SLTP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SLTP, kalangan SLTA merasa lulusan SLTP tidak siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Menengah, dan kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SLTA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan.
Kini juga muncul gejala lulusan SLTP dan SLTA banyak yang menjadi pengangguran di pedesaan, karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus membantu orang tuanya sebagai petani atau pedagang. Terkait dengan itu, studi Blazely dkk. (1997) melaporkan bahwa pembelajaran di sekolah cenderung sangat teoretik dan tidak terkait dengan lingkungan di mana anak berada. Akibatnya peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seakan mencabut peserta didik dari lingkungannya sehingga menjadi asing di masyarakatnya sendiri.
Dari komparasi intemasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat ke 112 dari 175 negara yang disurvai, tiga tingkat di bawah Vietnam. Survai the Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan Indonesia berada di peringkat ke 12 dari 12 negara yang disurvai, satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi the Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R 1999) melaporkan bahwa siswa SLTP Indonesia menempati peringkat 32 untuk ILMU ALAM dan 34 untuk Matematika, dari 38 negara yang disurvai di Asia, Australia, dan Afrika (Depdiknas, 2001).
Hasil penilaian terhadap HDt maupun hasil survai TIMSS-R 1999 dan PERC dengan 17 indikatomya, serta fenomena yang ditemukan di tanah air periu direnungkan secara sungguh-sungguh. Fakta itu menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Pada hal pendidikan yang bermutu merupakan syarat pokok untuk peningkatan mutu SDM dalam memasuki era kesejagatan. Sejarah menunjukkan negara yang memperhatikan mutu pendidikan ternyatamengalami perkembangan yang mengagumkan, seakan membuktikan bahwa hasil pendidikan berupa sumberdaya manusia yang bermutu, menjadi modal dasar yang sangat kokoh bagi perkembangan suatu negara. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah penyempurnaan yang mendasar, konsisten dan sistematik.
Untuk maksud tersebut, pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip dasamya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi), Pendidikan juga harus dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan, mampu dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan juga diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk memelihara diri sendiri, sambil meningkatkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan lingkungannya.
Di samping itu periu dikembangkan kesadaran bersama bahwa: (1) komitmen peningkatan mutu pendidikan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia, baik sebagai pribadi-pribadi maupun sebagai modal dasar pembangunan bangsa, merupakan langkah strategis pembangunan nasional, sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dan (2) pemerataan daya tampung pendidikan harus disertai pemerataan mutu pendidikan, sehingga mampu menjangkau seluruh masyarakat.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa sangat diperlukan pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yang secara integratif memadukan kecakapan generik dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problema kehidupan. Pendidikan haruslah fungsional dan jelas manfaatnya bagi peserta didik, sehingga tidak sekedar merupakan penumpukan pengetahuan yang tidak bermakna. Pendidikan harus diarahkan untuk kehidupan anak didik dan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran.
B. Pengalaman Hidup
Mariiah kita ingat-ingat teman kita yang dianggap "sukses" menjalani kehidupan dan kemudian kita cermati kemampuan apa yang mereka miliki sehingga sukses, atau setidaknya dapat bertahan hidup dalam situasi yang serba berubah. Jika ditanyakan mengapa dia sukses, umumnya kita akan menyatakan, mereka sukses karena: jujur, disiplin, kerja keras, ulet, pandai bergaul dan bermasyarakat, pandai melihat peluang dan memanfaatkan secara cerdas, serta memiliki banyak kiat sehingga mampu mengatasi masaiah yang dihadapi secara kreatif. Man kita simak bersama beberapa kisah sukses berikut ini.
Alkisah, sekelompok anak usia 7-10 tahun di daerah pedaiaman sedang asyik bercengkerama di atas perahu di sebuah sungai. Tiba-tiba dayungnya patah. Setetah berpikir dan mengamati sekitarnya, salah seorang di antaranya berenang ke pinggir, memotong pelepah enau dan hanya dalam beberapa menit mampu menghasilkan sebuah dayung darurat.
Kisah lain, baru-baru ini ada sekelompok anak muda yang mampu memanfaatkan sampah yang selalu menjadi masaiah di lingkungannya menjadi pupuk kompos dan bahan batako. Mereka mampu meyakinkan masyarakat untuk memisahkan sampah organik {sampah yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, ikan dan hewan) dan sampah anorganik {sampah yang berasal dari bahan tambang dan sintetis), sebelum dibuang ke tempat sampah. Di tempat penampungan, sampah organik diolah menjadi kompos sedangkan sampah anorganik sebagian dijual sebagai bahan daur ulang. Di suatu daerah di Kalimantan terkenai banyak rawa dengan air payau. Seorang guru risau dengan lingkungan sekolah yang penuh rawa dan miskin tanaman. Dengan memanfaatkan bekal ilmu yang dimiiiki dan konsultasi kesana-kemari, akhirnya ia menemukan cara sederhana untuk menetralkan air payah, sehingga dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Berubahlah sekolah menjadi hijau segar. Di sekolah yang bangunannya berupa bangunan panggung di atas tanah rawa itu, dipenuhi dengan tanaman tomat, cabe, terong, bunga dan berbagai tanaman hias yang ditanam di pot-pot sederhana dan ditempatkan di teras depan kelas. Setiap kelompok siswa memiliki pot dan bertanggung jawab atas tanaman di dalamnya.
Kisah-kisah dengan latar beiakang yang berbeda di atas menunjukkan bahwa "sang tokoh" mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengatasi problema yang dihadapi, dengan memanfaatkan benda dan situasi yang ada di sekitarnya. Bukankah itu identik dengan teman yang kita anggapi sebagai "orang sukses" tadi? Mereka sama-sama mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimiiiki untuk menggunakan benda, peralatan dan situasi yang ada untuk memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi.
Dengan merenungkan dan befajar dari pengalaman hidup masing-masing, kita akan menyadari bahwa dalam kehidupan setiap orang selalu menghadapi masaiah yang harus dipecahkan secara kreatif. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja untuk mencari nafkah, juga menghadapi masaiah, misalnya memilih tempat belanja yang murah tetapi mutu barangnya bagus, atau ketika sedang memasak, tiba-tiba gas Elpiji habis. Seorang penjual pisang goreng juga harus mampu memecahkan problem, seperti dimana mendapatkan pisang bagus dengan harga murah, tempat yang strategis untuk menjual barang dagangannya, dengan sewa murah tetapi aman dari preman, dan sebagainya.
Dalam derajat dan jenis yang berbeda, karyawan, pedagang, seniman, tentara, politisi dan pejabat pemerintah, siswa, mahasiswa, juga menghadapi berbagai masalah kehidupan sehari-hari yang harus mereka pecahkan. Bukankah dalam skala yang berbeda-beda perjalanan kehidupan semua manusia berlangsung seperti itu?.
Dalam kehidupan keseharian, manusia akan selalu dihadapkan pada problema hidup yang harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat dimanfaatkan. Kemampuan seperti itulah yang merupakan salah satu inti kecakapan hidup.Artinya, kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang dimanapun la berada ketika mengarungi kehidupan, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya.
Untuk memecahkan problema kehidupan tersebut memang diperlukan berbagai pengetahuan dan informasi, tetapi semua itu harus diolah dan diintegrasikan menjadi suatu skema pemikiran yang komprehensif, sehingga dapat digunakan untuk memahami problema yang ada, mencari alternatif-alternatif pemecahan yang arif dan kreatif, memilih salah satu yang paling cocok, sesuai dengan kondisi masyarakat dan waktu, dan kemudian melaksanakan alternatif yang dipilih tersebut secara cerdas dan konsisten.
C. Tantangan Masa Depan
Sementara mutu pendidikan di Indonesia belum menggembirakan, tantangan di masa depan sangat berat. Didalam negeri krisis ekonomi menyebabkan angka pengangguran terns meningkat dan pada akhir tahun 2001 telah mencapai 40 juta. Mengingat krisis ekonomi tersebut tampaknya belum segera pulih, maka angka pengangguran juga belum segera dapat turun, sehingga pendidikan perlu berperan aktif membantu mengatasi pengangguran tersebut.
Di bidang pendidikan sendiri, diketahui terdapat 88,4% lulusan SLTA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dan 34,4% lulusan SLTP yang tidak melanjutkan ke SLTA (Balitbang Diknas, 2000). Mereka perlu mendapat perhatian agar tidak menambah jumlah angka pengangguran yang sudah sedemikian besar. Hal ini berarti bahwa perlu dipikirkan bagaimana pendidikan dapat berperan mengubah manusia-beban menjadi manusia-produktif, bekal apa yang perlu diberikan kepada peserta didik agar dapat segera memasuki dunia kerja, sehingga setidaknya mampu menghidupi dirinya, syukur jika dapat turut menghidupi keluarga. Di samping itu, tanpa harus mengganti kurikulum, perlu pula dipikirkan bagaimana proses pendidikan dapat lebih bermakna bagi peserta didik.
Secara intemasional, sejak 1 Januari 2003 AFTA {Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area) telah dimulai, yang berarti sejak saat itu persaingan tenaga kerja akan menjadi terbuka. Konsekuensinya tenaga kerja kita harus mampu bersaing secara terbuka dengan tenaga kerja asing dari berbagai negara. Jika tidak, maka tenaga kerja Indonesia akan tersisih oleh tenaga kerja asing dari negeri jiran Malaysia, Philipina, Bangladesh, India, dan sebagainya, sehingga menjadi "penonton" di negeri sendiri. Pada hal selama ini tenaga kerja Indonesia belum mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Sekali lagi bidang pendidikan perlu secara aktif berperan mempersiapkan calon tenaga kerja agar mampu bersaing dengan rekan mereka dari negara lain.
Selain itu banyak ahli menyebutkan bahwa era informasi kini telah menggantikan era industri. Secara timbal balik dengan perkembangan ipteks, era informasi ternyata mampu mengubah poia kehidupan dan mempercepat pekerjaan. Orang kini harus siap menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan yang ditekuni mengalami perubahan dan memerlukan peningkatan kecakapan untuk menanganinya. Bersamaan dengan itu, era kompetisi yang cenderung individualistik kini sudah bergeser ke era komunalitas, yang memeiiukan kesadaran untuk saiing mengerti dan saling membantu, Oleh karena itu, pendidikan kini juga harus memperhatikan perkembangan tersebut.
D. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia kini menghadapi masalah yang serius, dengan indikator:
- cukup banyak lulusan SLTP dan SLTA yang tidak melanjutkan pendidikan, yang jika tidak bekerja akan menambah jumlah pengangguran,
- banyak lulusan SLTP dan SLTA yang tidak mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dari sekolah kedalam kehidupan sehari-hari, sehingga seakan-akan mereka terasing di lingkungannya sendiri dan seringkali menjadi
sumber keributan, dan - secara komparatif mutu pendidikan kita tergolong sangat rendah di unia, sementara itu dengan beriakunya AFTA sejak 1 Januari 2003, tenaga kerja asing akan segera masuk ke Indonesia, sehingga jika tidak siap kita akan
menjadi pecundang di negara sendiri.
Ketika indikator pendidikan tersebut di atas diajukan, beberapa orang menyatakan bahwa hal itu disebabkan oleh rendahnya mutu guru, kurangnya sarana dan kecilnya biaya operasional pendidikan. Tentu kita setuju dengan pendapat tersebut, namun tampaknya masih ada penyebab lain yang sangat mendasar, yaitu orientasi pendidikan.
Seperti yang diuraikan terdahulu, pendidikan kita selama ini berjalan dengan verbalistik dan berorientasi semata-mata kepada penguasaan mata pelajaran. Pengamatan terhadap praktek pendidikan sehari-hari menunjukkan bahwa pendidikan difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa. Seakan-akan pendidikan beryujuan untuk menguasai mata pelajaran Bagaimana keterkaitan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari dan bagaimana materi ersebut dapat digunakan untuk memecahkan probiema kehidupan, kurang mendapat perhatian. Pendidikan seakan teriepas dari kehidupan keseharian, seakan-akan pendidikan untuk pendidikan atau pendidikan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu siswa tidak mengetahui manfaat apa yang dipelajari dan sampai lulus seringkali tidak tahu bagaimana menggunakan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi.
Jika ditanyakan kepada siswa, mengapa dia belajar Matematika, Biologi, dan sebagainya, mereka tidak tahu. Jika dipaksa untuk menjawab, jawaban yang sering muncul adalah karena itu merupakan mata pelajaran di sekolah. Oleh karena itu pendidikan menjadi tidak bermakna bagi siswa, karena siswa tidak mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari dan tidak tahu bagaimana menggunakan materi ajar untuk memecahkan probiema sehari-hari. Akibatnya siswa tidak termotivasi, karena tidak mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari, dan setelah lulus mereka juga tidak tahu bagaimana menerapkan apa yang dipelajari. Dengan demikian tidak mengherankan jika motivasi belajar siswa pada umumnya rendah dan setelah mereka lulus, juga tidak tahu apa yang harus dikerjakan, kecuaii untuk melanjutkan sekolah dan menggunakan ijasah untuk melamar pekerjaan.
Bertolak dari masalah tersebut, kiranya periu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu kemampuan dan keberanian 1 menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pendidikan yang dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran/mata diklat/mata kuliah menjadi kecakapan hidup yang diperiukan seseorang, di manapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup yang baik, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya. Untuk mewujudkan hal ini, perlu diterapkan prinsip pendidikan berbasis luas yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau vokasional semata, tetapi juga memberikan bekal learning how to learn seka'igus learning how to unlearn, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari (Bentty, 2000). Pendidikan yang mengitegrasikan empat pilar pendidikan yang diajukan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and tearing to live together.
E. Landasan Filosofis, Historis dan Yuridis
Proses belajar terjadi setiap saat dan di segala tempat. Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengalami proses belajar, lewat apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan. Secara alamiah setiap orang akan terus belajar melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan.
Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasarnya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman belajar tersebut di atas. Oleh karena itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya (Senge, 2000).
Mungkin akan mucul pertanyaan, apa sebenarnya manfaat pendidikan, khususnyajika dikaitkan dengan kehidupan peserta didik. Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasamya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman tersebut di atas. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.
Secara historis, pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi. Ketika kehidupan masih sederhana, orangtua mendidik anaknya, atau anak belajar kepada orang tua atau orang lain yang lebih dewasa di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari alam di sekitamya.
Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mencari solusi untuk memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi sehari-hari.
Ketika kehidupan makin maju dan kompleks, masalah kehidupan dan fenomena alam kemudian diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Pendidikan juga mulai bermetamorfosa menjadi formal dan bidang keilmuan diterjemahkan menjadi mata pelajaran/mata kuliah/mata diklat di sekolah. Walaupun demikian sebenarnya tujuan pendidikan tetap, yaitu agar peserta didik mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi, dengan cara lebih baik dan lebih cepat, karena sudah dijelaskan secara keilmuan. Jadi tetap saja, bahkan "roh" pendidikan adalah mengembangkan kecakapan hidup peserta didik, sehingga pendidikan pada dasarnya merupakan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH).
Mata peiajaran/mata kuliah/mata diklat berfungsi untuk menjefaskan fenomena alam kehidupan sehingga febih mudah difahami dan lebih mudah dipecahkan problemanya. Dengan kata lain, mata pelajaran/ mata kuliah/mata diklat adalah alat untuk membentuk kecakapan/ kemampuan yang dapat membantu mengembangkan dan memecahkan serta mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan.
Landasan yuridis pendidikan kecakapan hidup dapat mengacu pada UU Nomor 20. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Pasal 1 ayat (1) dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiiiki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak muiia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi pada akhimya tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar nantinya mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara. Dengan demikian mata pelajaran, mata kuliah dan mata diklat harus dipahami sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan. Artinya sebagai alat untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar pada saatnya dapat digunakan untuk peran kehidupan yang akan dijalaninya di masa datang.
Terkait dengan peran dalam kehidupan, setiap manusia memiiiki empat peran yang berjalan secara simultan, yaitu sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai diri pribadi, sebagai anggota komunitas keluarga/anggota masyarakat/warga negara dan sebagai bagian dan alam lingkungan. Dengan demikian semestinya kecakapan untuk mengemban empat peran itulah yang periu dikembangkan dalam pendidikan. Kecakapan yang diperiukan untuk empat peran itulah yang seharusnya dikembangkan dalam pendidikan.

F. Tujuan
Secara umum pendidikan kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya di masa datang.
Secara khusus pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan untuk:
- mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi;
- merancang pendidikan agar fungsional bagi kehidupan peserta didik dalam menghadapi kehidupannya di masa datang;
- memberikan kesempatan kepada sekolah untuk pengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan;
- mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumberdaya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Sementara itu, buku ini ditulis dengan tujuan menjelaskan konsep pendidikan kecakapan hidup (PKH///fe skill education) dan penerapannya pada tiap jenis dan jenjang pendidikan.
G. Manfaat
Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap.
Buku singkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan, baik oleh kalangan pendidikan maupun masyarakat luas sebagai panduan dalam memahami konsep kecakapan hidup dan menerapkannya sesuai prinsip pendidikan berbasis luas. Sebagai suatu konsep, pendidikan kecakapan hidup tentu terbuka dan memang akan terus berkembang, namun dengan adanya buku ini, paling tidak semua pihak terkait dapat menyamakan persepsi tentang apa itu kecakapan hidup, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan berbasis luas dan pendidikan berbasis masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar