Minggu, 10 Juli 2011

KKM LISTRIK


Kompetensi Dasar dan Indikator

 

Kriteria Ketuntasan Minimal

 

Kriteria Penetapan Ketuntasan

 

Nilai

KKM

 

Kompleksitas

 

Daya dukung

 

Intake

 

SEMESTER GANJIL

1.1.Mendeskripsikan pengertian dan tujuan perawatan peralatan listrik.

Menjelaskan pengertian  perawatan peralatan listrik

Menjelaskan tujuan  perawatan peralatan listrik

Mendemonstrasikan cara perawatan peralatan listrik

1.2.Mengidentifikasi jenis-jenis perawatan peralatan listrik.

Mengidentifikasi  jenis-jenis perawatan peralatan listrik.

1.3.Mendiagnosa gangguan pada peralatan listrik

Mengidentifikasi gangguan peralatan listrik rumah tangga

Menunjukkan gangguan peralatan listrik rumah tangga secara tepat.

2.1.Mengidentifikasi alat dan bahan pada pekerjaan perawatan dan perbaikan peralatan listrik rumah tangga.

Menunjukkan alat dan bahan pada pekerjaan perawatan dan perbaikan peralatan listrik.

Menggunakan alat dan bahan pada pekerjaan perawatan dan perbaikan peralatan listrik rumah tangga.

2.2.Menggunakan alat ukur listrik pada pekerjaan perbaikan peralatan listrik rumah tangga

Mendemostrasikan penggunaan avometer

Terampil menggunakan avometer.

3.1.Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian seterika listrik

Mengidentifikasi dan menjelaskan bagian-bagian seterika listrik

Menjelaskan prinsip kerja seterika listrik

Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian seterika listrik

 

 

 

3.2. Melakukan perawatan, perbaikan dan    pengujian pemanas nasi.

Mengidentifikasi dan menjelaskan bagian-bagian pemanas nasi

Menjelaskan prinsip kerja pemanas nasi

Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian pemanas nasi

 

3.3. Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian rice cooker

Mengidentifikasi dan menjelaskan bagian-bagian rice cooker

Menjelaskan prinsip kerja rice cooker

Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian rice cooker

SEMESTER GENAP

1.1.Memasang instalasi rentang dan memasang pipa instalasi pada instalasi listrik.

Memasang instalasi rentang dan pipa instalasi pada instalasi listrik.pada rumah

     tinggal

1.2.Memasang pipa instalasi diluar tembok atau pada rumah kayu dan pipa instalasi dalam tembok.

Memasang pipa instalasi listrik diluar tembok

Memasang instalasi di dalam tembok

1.3.Memasang instalasi listrik dengan saklar,  lampu, stop kontak pada instalasi listrik

Memasang instalasi sebuah stop kontak,  saklar kutub tunggal melayani satu lampu pada instalasi rentang dan pipa diluar tembok/ di dalam tembok

Memasang instalasi listrik dengan sebuah saklar seri melayani dua buah lampu, sebuah stop kontak pada instalasi rentang dan pipa diluar/ di dalam tembok

Memasang instalasi listrik dua buah saklar tukar melayani satu lampu.

Memasang instalasi listrik dua buah saklar tukar atau lebih melayani lampu

2.1.Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian mixer

Mengidentifikasi dan menjelaskan bagian-bagian mixer

Menjelaskan prinsip kerja mixer

Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian mixer

 

 

2.2.Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian blender

Mengidentifikasi dan menjelaskan bagian-bagian blender

Menjelaskan prinsip kerja blender

Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian blender

2.3.Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian kipas angin

Mengidentifikasi dan menjelaskan bagian-bagian kipas angin

Menjelaskan prinsip kerja kipas angin

Melakukan perawatan, perbaikan dan pengujian kipas angin.

 

 

 

3

 

2

2

 

 

2

 

 

 

2

 

2

 

 

2

2

 

 

 

 

2

2

 

 

2

 

2

1

 

 

 

 

1

 

1

1

 

 

 

 

2

1

1

 

 

 

 

 

1

 

 

 

 

 

1

 

1

 

 

1

 

 

 

 

1

 

 

 

1

 

1

 

 

 

1

 

1

1

 

 

 

 

 

1

 

1

1

 

 

 

1

 

1

1

 

 

 

3

 

3

 

2

 

 

 

3

 

 

 

3

 

3

 

 

 

 

3

 

3

 

 

 

 

 

3

3

 

 

3

 

3

2

 

 

 

 

 

3

 

3

3

 

 

 

3

 

3

2

 

 

 

 

3

 

 

 

 

3

 

3

 

 

3

 

 

 

3

 

 

 

3

3

 

 

3

 

3

2

 

 

 

 

 

3

 

3

2

 

 

3

 

3

2

 

 

 

2

 

2

 

2

 

 

 

2

 

 

 

2

 

2

 

 

 

 

2

 

2

 

 

 

 

 

2

2

 

 

2

 

2

2

 

 

 

 

 

2

2

2

 

 

 

 

2

 

2

2

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

2

 

2

 

 

2

 

 

 

2

 

 

2

2

 

 

2

 

2

2

 

 

 

 

 

2

 

2

2

 

 

2

 

2

2

 

77.8

 

 

 

 

 

 

 

 

77.8

 

 

 

77.8

 

 

 

 

 

77.8

 

 

 

 

 

 

 

77.8

 

 

 

 

70.4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

66.7

 

 

 

 

 

 

 

66.7

 

 

 

 

 

 

 

 

66.7

 

 

 

 

66.7

 

 

 

 

66.7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

63

 

 

 

 

 

 

 

63

 

 

 

 

 

 

63

 

CATATAN:

Nilai  1 = rendah

Nilai  2 = sedang

Nilai  3 = tinggi

Jadi jika Indikator memiliki Komp. Tinggi (1), daya dukung sedang (2) dan intake tinggi (3); maka

Nilai KKM-nya adalah:

           1 + 2 + 3   x 100  = 66.7

                 9

Rata-rata KKM Semester I    =  74.1 

Rata-rata KKM semester II   = 64.9

 Jadi rata-rata KKM = semester I + Semester II = 69.5 = 70

 

KKM Mata Pelajaran Keterampilan Listrik = 70

 

 

 

 

 

                                                                                          Kendari,        Juli 2011

 

Mengetahui;

Kepala MAN 1 Kendari                                                                Guru Keterampilan Listrik

 

 

Ma’sud Achmad, S.Pd. M.Pd                                                     La  Ludi, S.Pd. M.Pd               

Nip: 196908111997031001                                                           Nip: 196712311999031009        

GLOBALISASI PENDINDIKAN


PENGARUH GLOBALISASI DALAM PENDIDIKAN

By: La  Ludi

Pengantar: Dunia pendidikan di Indonesia saat ini setidaknya menghadapi empat tantangan besar yang cukup kompleks, yaitu; Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah (added value), yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah dalam rangka meningkatkan produktivitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan. Kedua, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyrakat yang agraris kemasyarakat industry yang menguasai teknologi dan informasi serta seni, yang implikasinya pada tuntutan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakit ketat, yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks). Keempat, munculnya kolonialisme baru di bidang iptek dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik. Dengan demikian kolonialisme kini tidak  lagi berbentuk fisik, melainkan dalam bentuk informasi. Hal ini ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi dalam bentuk computer dan internet, sehingga bangsa Indonesia sangat bergantung kepada bangsa-bangsa yang telah lebih dulu menuasai teknologi informasi. Inilah bentuk kolonialisme baru yang menjadi semacam virtual enemy yang telah merambat diseluruh pelosok dunia ini.
Manajemen pendidikan tidak akan pernah bisa lepas dari empat tantangan besar yang kompleks ini. Keputusan manajemen harus mempertimbangkan factor-faktor ini, dan karenanya memahami isu-isu globalisasi dalam dunia pendidikan, baik itu di tingkat birokrat administrator seperti menteri pendidikan, para kepala dinas, dan para manajer teknis seperti rector, dekan dan para kepala sekolah.

1. Pendahuluan
Saat ini bangsa Indonesia sibuk melakukan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan hukum, meskipun tak kunjung padam subtansinya. Dalam proses reformasi yang sudah lebih kurang dari satu dekade masih ada gejala kearah dilupakannya peran pendidikan, walaupun sudah diatur dalam undang-undang sisdinas. Hal ini sungguh amat berbahaya, yang ongkosnya di masa mendatang harus dipikul oleh seluruh komponen bangsa berupa keterbelakangan, mahalnya biaya pendidikan dan kebodohan kolektif. Membangun sektor pendidikan tidak pernah  selesai dan tuntas, sepanjang peradaban manusia itu masih ada. Karena jika suatu bangsa selesai menangani suatu masalah pendidikan, akan tumbuh lagi masalah lain yang baru seiring  dengan tumbuhnya peradaban baru itu. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena tuntatan zaman. Proses pendidikan tidak hanya mempersiapkan  anak didik untuk mampu  hidup dalam masyarakat kini, tetapi mereka juga harus disiapkan untuk hidup di masyarakat yang akan datang yang semakin lama semakin sulit diprediksi karakteristiknya. Kesulitan memprediksi masyarakat yang akan datang disebabkan oleh kenyataan bahwa di era global ini perkembangan masyarakat tidak linier lagi, dan penuh dengan diskontinuitas.
Dunia internasional sekarang diwarnai oleh globalisasi. Dunia seolah-olah semakin menyempit akibat perkembangan teknologi, telekomunikasi, dan transportasi memunculkan kecenderungan similaritas dan uniformitas dari pada individu, kelompok, dan sistem social  yang melewati bahkan menghapus batas tradisional negara. Begitu juga dengan pendidikan, semakin berkembangnya zaman yang diwarnai oleh globalisasi maka pendidikan juga harus mampu menyeimbanginya dan mengembangkan mutu serta kualitas dalam bidang pendidikan agar dapat bertahan dari terpaan globalisasi. Oleh karena itu dibutuhkan pendidik yang benar-benar memiliki kemampuan sebagai pendidik. Pendidik dituntut untuk profesional dalam melaksanakan tugasnya dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi.

2. Globalisasi dan Pengaruhnya dalam Pendidikan
Globalisasi sering diterjehmahkan” mendunia” atau mensejagat” (Ali Idrus: 2009). Suatu entitas, betapapun,  di manapun, kapapun, dengan cepat menyebar keseluruh pelosok dunia, baik berupa ide, gagasan data, informasi, produksi, pembangunan, pemberontakan, sabotase, dan sebagainya, begitu disampaikan, saat itu pula diketahui oleh semua orang di seluruh dunia. Globalisasi, selain menghadirkan ruang positif untuk hidup mudah, nyaman, murah, indah, dan maju, tetapi juga menghadirkan keresahan , penderitaan, dan penyesatan. Globalisasi menawarkan banyak pilihan dan kekebasan yang bersifat pribadi. Pendek kata dewasa ini telah terjadi banjir pilihan dan peluang, terserah kompetensi kompetensi seseorang untuk memilikinya.
Proses globalisasi nampaknya tidak dapat diabaikan oleh setiap masyarakat dan bangsa di dunia ini, tidak ada satupun manusia, masyarakat, dan bangsa yang luput dari pengaruh globalisasi. Pembangunan nasional sebuah bangsa tidak hanya melihat kebutuhan internal masyarakat dan bangsa itu sendiri, tetapi juga pembangunan harus melihat ke luar dan kedepan serta perlu dijalin dengan bangsa lain. Karena masyarakat dan bangsa kita bagian dari suatu masyarakat dunia yang semakin maju dan menyatu.
Globalisasi merupakan kenyataan hidup bahkan suatu kesadaran baru bagi setiap manusia di bumi ini. Sebagian pakar mengatakan betapa besar impact yang disebabkan oleh pengaruh global ini sebagai suatu global revolution. Globalisasi dapat menimbulkan gaya hidup baru yang tampak dengan jelas di kota-kota besar dan semakin merebak memasuki kehidupan-kehidupan yang dulunya terisolasi. Bahkan globalisasi dapat merubah tatanan nilai-nilai sosial dan budaya di masyarakat. Kekuatan globalisasi menurut analisis para ahli pada umumnya bertumpu pada 4 kekuatan global, yaitu:
1. Kemajuan iptek terutama dalam bidang informasi dan inovasi-inovasi baru di dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia.
2. Perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan iptek
3. Kerjasama regional dan internasional yang telah menyatukan kehidupan berusaha dari bangsa-bangsa tanpa mengenal batas Negara.
4. Meningkatkan kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia di dalam kehidupan bersama, dan sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran bersama dalam alam demokkrasi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Sebagai contoh; banyaknya sekolah di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah-sekolah yang dikenal dengan bilingual school, atau sekolah/madrasah berstandar internasional, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi endidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasaran dunia. Namun dengan globalisasi dapat menimbul dampak positif maupun negatif di bidang pendidikan.
a.  Dampak positif globalisasi pendidikan:
1. Akan semakin mudahnya akses informasi
2. Globalisasi dalam bidang pendidikan akan menciptakan manusia yang profesional dan  berstandar internasional dalam bidang pendidikan
3. Globalisasi akan membawa dunia pendidikan Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain.
4. Globalisasi akan menciptakan tenaga kerja yang berkualitas dan mampu bersaing.
5. Adanya perubahan struktur dan sistem pendidikan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendiddikan dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan akan sangat pesat.
a.  Dampak negatif globalisasi pendidikan.
Globalisasi pendidikan tidak selamanya membawa dampak positif bagi ddunia pendidikan, melainkan globalisasi memiliki dampak negative yang perlu diantisipasi dan diwaspadai. Dampak negatif globalisasi antara lain:
Dunia pendidikan di Indonesia dapat dikuasai oleh pemilik modal. Dunia pendidikan akan sangat bergantung pada teknologi, yang berdampak munculnya “ tradisi serba instant”.
Globalisasi akan melahirkan suatu golongan-golongan di dalam dunia pendidikan. Akan semakin terkikisnya kebudayaan bangsa akibat masuknya budaya dari luar. Globalisasi dunia pendidikan mampu memaksas leberalisasi berbagai sektor yang dulunya non-komersial menjadi komoditas dalam pasar yang baru. Globalisasi mengakibatkan melonggarnya kekuatan control pendidikan oleh negara  mengacu ke standard internasional, dan bahasa Inggris menjadi sangat penting sebagai bahasa komunikasi, supaya bisa bersaing.

3. Pendidikan yang Memiliki Wawasan Globalisasi
Pendidikan memiliki  keterkaitan erat dengan globalisasi. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses blobalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Untuk itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Sain itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala factor yang dapat mendukung pencapaian sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.
a. Perspektif kurikuler
Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan dua perspektif: Kurikuler dan perspektif Reformasi. Berdasarkan perspektif kurikuler, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan profesional dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat dunia, dengan cirri-ciri, yakni:
·      Mempelajari budaya, sosial,  politik, dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan.
·      Mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai kebutuhan lingkungan setempat, dan,
·      Mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.
Bedasarkan perspektif kurikuler ini, pengembangan pendidikan berwawasan global berimplikasi kearah perubahan kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak bersifat intergratif. Dalam arti mata kuliah lebih ditekankan pada kajian yang bersifat multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner.
b. Perspektif reformasi
Berdasarkan pandangan perspektif reformasi,  pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik dengan kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat sangat kompetetitif dan dengan derajad saling ketergantungan antar bangsa yang amat tinggi. Pendidikan harus mengkaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Oleh karena itu sekolah harus memiliki orientasi nilai, dimana masyarakat kita harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.
Implikasi dari pendidikan berwawasan global menurut perspektif reformasi, tidak hanya bersifat perubahan kurikulum,  melainkan juga merubah sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi pendidikan berwawasan global. Pendidikan yang berwawasan global harus merupakan kombinasi antara kebijakan sosial disatu sisi dan disisi lain sebagai kebijakan yang berdasarkan pada mekanisme pasar. Oleh karena itu, sistem dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi ekonomis.

Referensi
Ali Idrus. (2009). Manajemen Pendidikan Global, Visi, Misi dan Adaptasi, Gaung Persada. Jakarta.
Tilaar, (2003). Kekuasaan dan Pendidikan, Indonesiatera. Magelang.

Senin, 04 Juli 2011

LIFE SKILL


 

BAB I: PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Dalam setiap GBHN dan REPELITA selalu tercantum bahwa peningkatan mutu merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah diiaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku/bahan ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya.

Namun demikian berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai Sekolah Menengah relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Tawuran antar siswa kini sudah menjadi berita biasa. Jika dulu tawuran diikuti siswa-siswa SLTA di kota besar, kini sudah menjalar sampai ke SLTP di kota kabupaten. Dari dunia usaha juga muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi, kalangan SLTP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SLTP, kalangan SLTA merasa lulusan SLTP tidak siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Menengah, dan kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SLTA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan.

Kini juga muncul gejala lulusan SLTP dan SLTA banyak yang menjadi pengangguran di pedesaan, karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus membantu orang tuanya sebagai petani atau pedagang. Terkait dengan itu, studi Blazely dkk. (1997) melaporkan bahwa pembelajaran di sekolah cenderung sangat teoretik dan tidak terkait dengan lingkungan di mana anak berada. Akibatnya peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seakan mencabut peserta didik dari lingkungannya sehingga menjadi asing di masyarakatnya sendiri.

Dari komparasi intemasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat ke 112 dari 175 negara yang disurvai, tiga tingkat di bawah Vietnam. Survai the Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan Indonesia berada di peringkat ke 12 dari 12 negara yang disurvai, satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi the Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R 1999) melaporkan bahwa siswa SLTP Indonesia menempati peringkat 32 untuk ILMU ALAM dan 34 untuk Matematika, dari 38 negara yang disurvai di Asia, Australia, dan Afrika (Depdiknas, 2001).

Hasil penilaian terhadap HDt maupun hasil survai TIMSS-R 1999 dan PERC dengan 17 indikatomya, serta fenomena yang ditemukan di tanah air periu direnungkan secara sungguh-sungguh. Fakta itu menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Pada hal pendidikan yang bermutu merupakan syarat pokok untuk peningkatan mutu SDM dalam memasuki era kesejagatan. Sejarah menunjukkan negara yang memperhatikan mutu pendidikan ternyatamengalami perkembangan yang mengagumkan, seakan membuktikan bahwa hasil pendidikan berupa sumberdaya manusia yang bermutu, menjadi modal dasar yang sangat kokoh bagi perkembangan suatu negara. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah penyempurnaan yang mendasar, konsisten dan sistematik.

Untuk maksud tersebut, pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip dasamya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi), Pendidikan juga harus dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan, mampu dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan juga diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk memelihara diri sendiri, sambil meningkatkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan lingkungannya.

Di samping itu periu dikembangkan kesadaran bersama bahwa: (1) komitmen peningkatan mutu pendidikan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia, baik sebagai pribadi-pribadi maupun sebagai modal dasar pembangunan bangsa, merupakan langkah strategis pembangunan nasional, sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dan (2) pemerataan daya tampung pendidikan harus disertai pemerataan mutu pendidikan, sehingga mampu menjangkau seluruh masyarakat.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa sangat diperlukan pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yang secara integratif memadukan kecakapan generik dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problema kehidupan. Pendidikan haruslah fungsional dan jelas manfaatnya bagi peserta didik, sehingga tidak sekedar merupakan penumpukan pengetahuan yang tidak bermakna. Pendidikan harus diarahkan untuk kehidupan anak didik dan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran.

B. Pengalaman Hidup


Mariiah kita ingat-ingat teman kita yang dianggap "sukses" menjalani kehidupan dan kemudian kita cermati kemampuan apa yang mereka miliki sehingga sukses, atau setidaknya dapat bertahan hidup dalam situasi yang serba berubah. Jika ditanyakan mengapa dia sukses, umumnya kita akan menyatakan, mereka sukses karena: jujur, disiplin, kerja keras, ulet, pandai bergaul dan bermasyarakat, pandai melihat peluang dan memanfaatkan secara cerdas, serta memiliki banyak kiat sehingga mampu mengatasi masaiah yang dihadapi secara kreatif. Man kita simak bersama beberapa kisah sukses berikut ini.

Alkisah, sekelompok anak usia 7-10 tahun di daerah pedaiaman sedang asyik bercengkerama di atas perahu di sebuah sungai. Tiba-tiba dayungnya patah. Setetah berpikir dan mengamati sekitarnya, salah seorang di antaranya berenang ke pinggir, memotong pelepah enau dan hanya dalam beberapa menit mampu menghasilkan sebuah dayung darurat.

Kisah lain, baru-baru ini ada sekelompok anak muda yang mampu memanfaatkan sampah yang selalu menjadi masaiah di lingkungannya menjadi pupuk kompos dan bahan batako. Mereka mampu meyakinkan masyarakat untuk memisahkan sampah organik {sampah yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, ikan dan hewan) dan sampah anorganik {sampah yang berasal dari bahan tambang dan sintetis), sebelum dibuang ke tempat sampah. Di tempat penampungan, sampah organik diolah menjadi kompos sedangkan sampah anorganik sebagian dijual sebagai bahan daur ulang. Di suatu daerah di Kalimantan terkenai banyak rawa dengan air payau. Seorang guru risau dengan lingkungan sekolah yang penuh rawa dan miskin tanaman. Dengan memanfaatkan bekal ilmu yang dimiiiki dan konsultasi kesana-kemari, akhirnya ia menemukan cara sederhana untuk menetralkan air payah, sehingga dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Berubahlah sekolah menjadi hijau segar. Di sekolah yang bangunannya berupa bangunan panggung di atas tanah rawa itu, dipenuhi dengan tanaman tomat, cabe, terong, bunga dan berbagai tanaman hias yang ditanam di pot-pot sederhana dan ditempatkan di teras depan kelas. Setiap kelompok siswa memiliki pot dan bertanggung jawab atas tanaman di dalamnya.

Kisah-kisah dengan latar beiakang yang berbeda di atas menunjukkan bahwa "sang tokoh" mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengatasi problema yang dihadapi, dengan memanfaatkan benda dan situasi yang ada di sekitarnya. Bukankah itu identik dengan teman yang kita anggapi sebagai "orang sukses" tadi? Mereka sama-sama mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimiiiki untuk menggunakan benda, peralatan dan situasi yang ada untuk memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi.

Dengan merenungkan dan befajar dari pengalaman hidup masing-masing, kita akan menyadari bahwa dalam kehidupan setiap orang selalu menghadapi masaiah yang harus dipecahkan secara kreatif. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja untuk mencari nafkah, juga menghadapi masaiah, misalnya memilih tempat belanja yang murah tetapi mutu barangnya bagus, atau ketika sedang memasak, tiba-tiba gas Elpiji habis. Seorang penjual pisang goreng juga harus mampu memecahkan problem, seperti dimana mendapatkan pisang bagus dengan harga murah, tempat yang strategis untuk menjual barang dagangannya, dengan sewa murah tetapi aman dari preman, dan sebagainya.

Dalam derajat dan jenis yang berbeda, karyawan, pedagang, seniman, tentara, politisi dan pejabat pemerintah, siswa, mahasiswa, juga menghadapi berbagai masalah kehidupan sehari-hari yang harus mereka pecahkan. Bukankah dalam skala yang berbeda-beda perjalanan kehidupan semua manusia berlangsung seperti itu?.

Dalam kehidupan keseharian, manusia akan selalu dihadapkan pada problema hidup yang harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat dimanfaatkan. Kemampuan seperti itulah yang merupakan salah satu inti kecakapan hidup.Artinya, kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang dimanapun la berada ketika mengarungi kehidupan, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya.

Untuk memecahkan problema kehidupan tersebut memang diperlukan berbagai pengetahuan dan informasi, tetapi semua itu harus diolah dan diintegrasikan menjadi suatu skema pemikiran yang komprehensif, sehingga dapat digunakan untuk memahami problema yang ada, mencari alternatif-alternatif pemecahan yang arif dan kreatif, memilih salah satu yang paling cocok, sesuai dengan kondisi masyarakat dan waktu, dan kemudian melaksanakan alternatif yang dipilih tersebut secara cerdas dan konsisten.

C. Tantangan Masa Depan


Sementara mutu pendidikan di Indonesia belum menggembirakan, tantangan di masa depan sangat berat. Didalam negeri krisis ekonomi menyebabkan angka pengangguran terns meningkat dan pada akhir tahun 2001 telah mencapai 40 juta. Mengingat krisis ekonomi tersebut tampaknya belum segera pulih, maka angka pengangguran juga belum segera dapat turun, sehingga pendidikan perlu berperan aktif membantu mengatasi pengangguran tersebut.

Di bidang pendidikan sendiri, diketahui terdapat 88,4% lulusan SLTA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dan 34,4% lulusan SLTP yang tidak melanjutkan ke SLTA (Balitbang Diknas, 2000). Mereka perlu mendapat perhatian agar tidak menambah jumlah angka pengangguran yang sudah sedemikian besar. Hal ini berarti bahwa perlu dipikirkan bagaimana pendidikan dapat berperan mengubah manusia-beban menjadi manusia-produktif, bekal apa yang perlu diberikan kepada peserta didik agar dapat segera memasuki dunia kerja, sehingga setidaknya mampu menghidupi dirinya, syukur jika dapat turut menghidupi keluarga. Di samping itu, tanpa harus mengganti kurikulum, perlu pula dipikirkan bagaimana proses pendidikan dapat lebih bermakna bagi peserta didik.

Secara intemasional, sejak 1 Januari 2003 AFTA {Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area) telah dimulai, yang berarti sejak saat itu persaingan tenaga kerja akan menjadi terbuka. Konsekuensinya tenaga kerja kita harus mampu bersaing secara terbuka dengan tenaga kerja asing dari berbagai negara. Jika tidak, maka tenaga kerja Indonesia akan tersisih oleh tenaga kerja asing dari negeri jiran Malaysia, Philipina, Bangladesh, India, dan sebagainya, sehingga menjadi "penonton" di negeri sendiri. Pada hal selama ini tenaga kerja Indonesia belum mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Sekali lagi bidang pendidikan perlu secara aktif berperan mempersiapkan calon tenaga kerja agar mampu bersaing dengan rekan mereka dari negara lain.

Selain itu banyak ahli menyebutkan bahwa era informasi kini telah menggantikan era industri. Secara timbal balik dengan perkembangan ipteks, era informasi ternyata mampu mengubah poia kehidupan dan mempercepat pekerjaan. Orang kini harus siap menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan yang ditekuni mengalami perubahan dan memerlukan peningkatan kecakapan untuk menanganinya. Bersamaan dengan itu, era kompetisi yang cenderung individualistik kini sudah bergeser ke era komunalitas, yang memeiiukan kesadaran untuk saiing mengerti dan saling membantu, Oleh karena itu, pendidikan kini juga harus memperhatikan perkembangan tersebut.

D. Rumusan Masalah dan Pemecahannya


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia kini menghadapi masalah yang serius, dengan indikator:
  1. cukup banyak lulusan SLTP dan SLTA yang tidak melanjutkan pendidikan, yang jika tidak bekerja akan menambah jumlah pengangguran,
  2. banyak lulusan SLTP dan SLTA yang tidak mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dari sekolah kedalam kehidupan sehari-hari, sehingga seakan-akan mereka terasing di lingkungannya sendiri dan seringkali menjadi
    sumber keributan, dan
  3. secara komparatif mutu pendidikan kita tergolong sangat rendah di unia, sementara itu dengan beriakunya AFTA sejak 1 Januari 2003, tenaga kerja asing akan segera masuk ke Indonesia, sehingga jika tidak siap kita akan
    menjadi pecundang di negara sendiri.

Ketika indikator pendidikan tersebut di atas diajukan, beberapa orang menyatakan bahwa hal itu disebabkan oleh rendahnya mutu guru, kurangnya sarana dan kecilnya biaya operasional pendidikan. Tentu kita setuju dengan pendapat tersebut, namun tampaknya masih ada penyebab lain yang sangat mendasar, yaitu orientasi pendidikan.

Seperti yang diuraikan terdahulu, pendidikan kita selama ini berjalan dengan verbalistik dan berorientasi semata-mata kepada penguasaan mata pelajaran. Pengamatan terhadap praktek pendidikan sehari-hari menunjukkan bahwa pendidikan difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa. Seakan-akan pendidikan beryujuan untuk menguasai mata pelajaran Bagaimana keterkaitan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari dan bagaimana materi ersebut dapat digunakan untuk memecahkan probiema kehidupan, kurang mendapat perhatian. Pendidikan seakan teriepas dari kehidupan keseharian, seakan-akan pendidikan untuk pendidikan atau pendidikan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu siswa tidak mengetahui manfaat apa yang dipelajari dan sampai lulus seringkali tidak tahu bagaimana menggunakan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi.

Jika ditanyakan kepada siswa, mengapa dia belajar Matematika, Biologi, dan sebagainya, mereka tidak tahu. Jika dipaksa untuk menjawab, jawaban yang sering muncul adalah karena itu merupakan mata pelajaran di sekolah. Oleh karena itu pendidikan menjadi tidak bermakna bagi siswa, karena siswa tidak mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari dan tidak tahu bagaimana menggunakan materi ajar untuk memecahkan probiema sehari-hari. Akibatnya siswa tidak termotivasi, karena tidak mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari, dan setelah lulus mereka juga tidak tahu bagaimana menerapkan apa yang dipelajari. Dengan demikian tidak mengherankan jika motivasi belajar siswa pada umumnya rendah dan setelah mereka lulus, juga tidak tahu apa yang harus dikerjakan, kecuaii untuk melanjutkan sekolah dan menggunakan ijasah untuk melamar pekerjaan.

Bertolak dari masalah tersebut, kiranya periu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu kemampuan dan keberanian 1 menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pendidikan yang dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran/mata diklat/mata kuliah menjadi kecakapan hidup yang diperiukan seseorang, di manapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup yang baik, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya. Untuk mewujudkan hal ini, perlu diterapkan prinsip pendidikan berbasis luas yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau vokasional semata, tetapi juga memberikan bekal learning how to learn seka'igus learning how to unlearn, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari (Bentty, 2000). Pendidikan yang mengitegrasikan empat pilar pendidikan yang diajukan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and tearing to live together.

E. Landasan Filosofis, Historis dan Yuridis


Proses belajar terjadi setiap saat dan di segala tempat. Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengalami proses belajar, lewat apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan. Secara alamiah setiap orang akan terus belajar melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan.

Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasarnya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman belajar tersebut di atas. Oleh karena itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya (Senge, 2000).

Mungkin akan mucul pertanyaan, apa sebenarnya manfaat pendidikan, khususnyajika dikaitkan dengan kehidupan peserta didik. Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasamya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman tersebut di atas. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.

Secara historis, pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi. Ketika kehidupan masih sederhana, orangtua mendidik anaknya, atau anak belajar kepada orang tua atau orang lain yang lebih dewasa di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari alam di sekitamya.

Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mencari solusi untuk memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi sehari-hari.

Ketika kehidupan makin maju dan kompleks, masalah kehidupan dan fenomena alam kemudian diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Pendidikan juga mulai bermetamorfosa menjadi formal dan bidang keilmuan diterjemahkan menjadi mata pelajaran/mata kuliah/mata diklat di sekolah. Walaupun demikian sebenarnya tujuan pendidikan tetap, yaitu agar peserta didik mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi, dengan cara lebih baik dan lebih cepat, karena sudah dijelaskan secara keilmuan. Jadi tetap saja, bahkan "roh" pendidikan adalah mengembangkan kecakapan hidup peserta didik, sehingga pendidikan pada dasarnya merupakan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH).

Mata peiajaran/mata kuliah/mata diklat berfungsi untuk menjefaskan fenomena alam kehidupan sehingga febih mudah difahami dan lebih mudah dipecahkan problemanya. Dengan kata lain, mata pelajaran/ mata kuliah/mata diklat adalah alat untuk membentuk kecakapan/ kemampuan yang dapat membantu mengembangkan dan memecahkan serta mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan.

Landasan yuridis pendidikan kecakapan hidup dapat mengacu pada UU Nomor 20. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Pasal 1 ayat (1) dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiiiki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak muiia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi pada akhimya tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar nantinya mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara. Dengan demikian mata pelajaran, mata kuliah dan mata diklat harus dipahami sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan. Artinya sebagai alat untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar pada saatnya dapat digunakan untuk peran kehidupan yang akan dijalaninya di masa datang.

Terkait dengan peran dalam kehidupan, setiap manusia memiiiki empat peran yang berjalan secara simultan, yaitu sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai diri pribadi, sebagai anggota komunitas keluarga/anggota masyarakat/warga negara dan sebagai bagian dan alam lingkungan. Dengan demikian semestinya kecakapan untuk mengemban empat peran itulah yang periu dikembangkan dalam pendidikan. Kecakapan yang diperiukan untuk empat peran itulah yang seharusnya dikembangkan dalam pendidikan.

F. Tujuan



Secara umum pendidikan kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya di masa datang.

Secara khusus pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan untuk:
  1. mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi;
  2. merancang pendidikan agar fungsional bagi kehidupan peserta didik dalam menghadapi kehidupannya di masa datang;
  3. memberikan kesempatan kepada sekolah untuk pengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan;
  4. mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumberdaya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.

Sementara itu, buku ini ditulis dengan tujuan menjelaskan konsep pendidikan kecakapan hidup (PKH///fe skill education) dan penerapannya pada tiap jenis dan jenjang pendidikan.

G. Manfaat


Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap.

Buku singkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan, baik oleh kalangan pendidikan maupun masyarakat luas sebagai panduan dalam memahami konsep kecakapan hidup dan menerapkannya sesuai prinsip pendidikan berbasis luas. Sebagai suatu konsep, pendidikan kecakapan hidup tentu terbuka dan memang akan terus berkembang, namun dengan adanya buku ini, paling tidak semua pihak terkait dapat menyamakan persepsi tentang apa itu kecakapan hidup, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan berbasis luas dan pendidikan berbasis masyarakat.

SEKOLAH YANG INOVATIF

By: LA LUDI


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang.
Sistem pendidikan di Indonesia belum membebaskan. Peserta didik menjalani proses belajar bagaikan dalam penjara. Mereka harus mengikuti pelajaran di dalam ruang kelas dengan aturan-aturannya sendiri, belum lagi siswa harus menguasai sejumlah ilmu pada sekolah dasar dan menengah dalam waktu yang sempit. Serta banyaknya tugas-tugas dari sekolah maupun guru yang harus mereka kerjakan untuk keesokan harinya. Sementara itu disana sini masih terjadi keluhan dari masyarakat tentang kurang relevannya kurikulum di sekolah-sekolah dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan dan pembangunan. Masalah relevansi tersebut dapat dilihat dari tiga segi yaitu belum relevannya dengan lingkungan hidup peserta didik, perkembangan kehidupan masa sekarang  dan masa yang akan datang dan tuntutan dunia pekerjaan. Suara tentang perlunya relevansi pendidikan dengan dunia pekerjaan menggaung semakin keras pada saat sekarang. Kurang relevannya pendidikan dengan dunia pendidikan mengakibatkan sukarnya lulusan sekolah yang ingin memasuki angkatan kerja untuk memperoleh pekerjaan. Lulusan sekolah-sekolah yang ingin memasuki pekerjaan di tempat asalnya tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan bagi mereka ingin bekerja di daerah lain tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tidak sesuai dengan kualifikasi pekerjaan yang diinginkan. Selain masalah tersebut juga termasuk masalah mutu sebagai penghasil lulusan yang bermutu masih rendah karena peningkatan sumber-sumber belajar  dan peningkatan sarana dan prasarana belajar belum dilaksanakan secara optimal. Disamping itu efesiensi berkaitan dengan usaha yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal tetapi dengan biaya dan tenaga yang seminimal mungkin masih terabaikan. Hal ini yang membuat sehingga  hasil pendidikan di Indonesia belum optimal. Oleh karena itu banyak bermunculan sekolah-sekolah inovatif di Indonesia dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Termasuk implementasi kurikulum berbasis kompetensi menuntut perubahan terhadap berbagai aspek pendidikan yang inovatif.

B. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain :
1. Apa arti dari sekolah inovatif ?
2. Seperti apa sekolah inovatif itu ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.   Arti dari Sekolah Inovatif
Sekolah inovatif adalah sekolah yang memberi kebebasan anak untuk berkreasi, mengekspresikan perasaannya dan sebagainya. Sekolah lebih menekankan pemahaman, kemampuan tertentu pada peserta didik yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada dimasyarakat. Sekolah yang harus tanggap atas keadaan dalam memenuhi harapan terhadap kebutuhan   lingkungan peserta didik dengan pembangunan. Menerapkan kurikulum berbasis kompetensi dan sekolah perlu mengembangkan sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan untuk menjangkau kualitas lulusan yang diharapkan. Sekolah selalu mengembangkan silabus mata pelajaran yang dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. Intinya tidak membebani anak dan tidak menjadikan sekolah itu seperti penjara. Pengembangan inovasi ditingkat sekolah harus dilakukan melalui suatu rangkaian kerja atau proses untuk mengetahui masalah dan kendala yang dihadapi guru. Setelah diketahui masalah  dan kendalanya maka dicari cara-cara yang relatif baru dan padat dilaksanakan untuk memecahkan masalah dan kendala itu.

B.  Perwujudan dari Sekolah Inovatif
Kesadaran bahwa pendidikan itu untuk peserta didik, belajar itu hak bukan kewajiban itu masih minim. Sekarang peserta didik lebih banyak diperlakukan seperti robot, harus nurut, peserta didik  untuk kurikulum, sarat kekerasan dan kadang sekedar mengejar nilai bukan proses. Ini sangat merugikan bagi pengembangan kreatifitas dan kemandirian peserta didik. Padahal seharusnya sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif mereka. Oleh karena itu, banyak bermunculan sekolah-sekolah inovatif saat ini dengan mengutamakan prinsip-prinsip:

1.    Relevansi.
Relevansi berarti kesesuaian antara pendidik dengan tuntutan kehidupan dan harapan masyarakat ( Amsyar dan Nurtain, 1993 ). Relevansi dapat di capai, kalau lulusan sekolah bermanfaat bagi kehidupan nyata di masyarakat, yaitu lulusan yang fungsional. Hendyat dan Wasty seperti dikutip Amsyar dan Nurtain ( 1993 )  menyatakan ada tiga segi masalah relevansi yaitu relevansi dengan lingkungan hidup peserta didik, perkembangan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang, dan tuntutan dunia pekerjaan.
Dalam menentukan materi, perlu di sesuaikan dengan keadaan nyata dan sekitar. Umpamanya, materi muatan lokal merupakan salah satu cara  bagi peningkatan relevansi pendidikan di Madrasah dengan keadaan lingkungan alam, sosial, dan budaya, serta kebutuhan daerah. Selain pertimbangan lingkungan hidup, perlu dipertimbangkan perkembangan kehidupan dimasa sekarang dan masa depan. Dengan demikian perlu sekolah melakukan inovasi agar kurikulum membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang serasi dengan lingkungan alam dan sosial budaya masing-masing siswa, tanpa mengabaikan pengenalan lingkungan lain melalui kurikulum yang berlaku secara nasional.

  1. Mutu.
Dalam GBHN 1983 mengamanatkan agar peningkatan mutu pendidikan di semua tingkat, jenjang, dan jenis tingkatan. Salah satu wujud dalam melaksanakan  peningkatan mutu pendidikan di sekolah adalah dengan peningkatan prestasi belajar siswa melalui perbaikan mutu guru dan kurikulum, pengadaan buku-buku, sarana, dan prasarana lainnya, perbaikan manajemen, dan layanan perpustakaan serta refungsionalisasi supervisi dan pengawasan pelaksanaan kurikulum.
Perbaikan mutu guru dapat dicapai  melalui penataran, penyetaraan guru, serta peningkatan interaksi kolegial guru melalui organisasi profesi, dan sistem pembinaan guru. Perbaikan kurikulum di lakukan dengan inovasi yang memungkinkan materi pelajaran di sesuaikan dengan kebutuhan pembangunan, serta melalui cara belajar aktif dalam setiap proses belajar mengajar. Inovasi lain seperti guru perlu melakukan strategi pembelajaran kontekstual.
Wina Sanjaya ( 2006), Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Salah satu wujud dari CTL adalah pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Pengembangan KBK perlu memasukkan keterampilan untuk hidup ( life skill ) agar peserta didik memiliki keterampilan, sikap, dan perilaku adaptif, kooperatif dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif    ( Mulyasa, 2006 )  

  1. Efisiensi.
Efesiensi berkaitan dengan usaha yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal tetapi dengan biaya dan tenaga yang maksimal tetapi dengan biaya dan tenaga yang seminimal mungkin    ( Amsyar dan Nurtain, 1993 ). Ini berarti bahwa jika hasil yang diperoleh lebih besar dari usaha yang telah dikeluarkan, maka kegiatan tersebut dikatakan efisien. Sebaliknya jika yang di peroleh lebih kecil dari usaha yang telah dikeluarkan, maka usaha tersebut tidak efisien. Oleh karena itu sekolah yang inovatif dalam pengembangan kurikulum dan pengajaran  perlu memperhatikan efisiensi masalah dana, tenaga guru,  waktu, dan sarana belajar. Umpamanya seringkali terdengar keluhan bahwa sekolah tidak efisien  dalam alokasi waktu. Sangat banyak waktu pelajaran habis untuk hal-hal yang tidak perlu, seperti siswa yang di kerahkan paga kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, waktu belajar yang dihabiskan untuk rapat-rapat guru, dan lain-lain.
4.   Efektifitas
Efektifitas menyangkut atas jawaban pertanyaan. ” Sejauh mana sekolah yang telah direncanakan untuk mencapai suatu tujuan telah tercapai ”. Dalam kurikulum, efektifitas berkaitan dengan tingkat keberhasilan pelaksanaan pengajaran dengan pencapaian tujuan, baik dalam usaha pencapaian semua tujuan instruksional, maupun dalam usaha pencapaian semua tujuan kurikuler dan tujuan institusional. Untuk mencapai suatu tujuan instruksional, disusun berbagai macam kegiatan belajar. Kegiatan tersebut di programkan agar peserta didik memiliki pengalaman belajar. Untuk mengetahui apakan tujuan instruksional dan tujuan kurikuler semua mata pelajaran itu telah tercapai  perlu mengadakan kegiatan evaluasi. Sebab dengan mengadakan evaluasi dapat diketahui tingkat efektifitas pelaksanaan kurikulum semua mata pelajaran. Hasil evaluasi dipakai sebagai masukan untuk mencari jalan bagi perbaikan pelaksanaan kurikulum pada semester berikutnya.

  1. Struktur Pendidikan Guru.
Guru memegang peranan penting dalam pelaksanaan inovasi-inivasi proses belajar mengajar. Selain sebagai perencana, dan pengembangan kurikulum dan pengajaran, guru adalah pembimbing, dinamisator, fasilitator, dan arsitek proses belajar – mengajar. Karena betapa penting dan besarnya peranan guru dalam pembelajaran siswa, maka guru haruslah seorang yang profesional, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian yang tinggi. Kualitas guru yang demikian hanya dapat diperoleh, kalau guru disiapkan dengan matang agar ia mampu berbuat serba profesional dalam pelaksanaan kurikulum.
Wina Sanjaya ( 2006), sebagai suatu profesi, terdapat sejumlah kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru, yaitu meliputi kompetensi pribadi, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial kemasyarakatan.
a.    Kompetensi Pribadi.
Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan. Sebagai seorang model, guru harus mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan perkembangan kepribadian, diantaranya :
1.    Kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.
2.    Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar umat beragama.
3.    Kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku dimasyarakat.
4.    Mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru.
5.    Bersifat demokratis dan terbuka terhadap pembaharuan dan kritik.
b.  Kompetensi Pofesional
Kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting dalam melaksanakan berbagai inovasi, sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Oleh karena itu, tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi ini dalam melakukan inovasi. Beberapa  kemampuan  yang berhubungan dengan kompetensi ini diantaranya :
6.    Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai, baik baik tujuan naisional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan pembelajaran.
7.    Pemahaman dalam psikologi pendidikan, misalnya paham terhadap tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar dan lain sebagainya.
8.    Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya.
9.    Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran.
10. Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.
11. Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
12. Kemampuan dalam menyusun pembelajaran.
13. Kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang, misalnya paham akan administrasi sekolah, bimbingan, dan penyuluhan.
14. Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.
c.   Kompetensi Sosial Kemasyarakatan
1. Kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional.
2. Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan.
3.  Kemampuan untuk menjalin kerja sama, baik secara individual maupun secara kelompok.

6.  Mengoptimalkan Peranan Guru dalam Proses Pembelajaran
Ketika ilmu pengetahuan masih terbatas, ketika penemuan hasil-hasil teknologi belum berkembang hebat seperti sekarang ini, maka peran utama guru di sekolah adalah menyampaikan ilmu pengetahuan  sebagai warisan kebudayaan masa lalu yang dianggap berguna sehingga harus dilestarikan. Dalam kondisi demikian guru berperan sebagai sumber belajar ( learning resources ) bagi siswa. Siswa akan belajar apa yang keluar dari mulut guru. Oleh karena itu, ada pepatah yang menyebutkan bagaimanapun pintarnya siswa, maka tidak akan mungkin mengalahkan pintarnya guru. Apakah dalam kondisi yang demikian dapat dipertahankan? Apakah ilmu pengetahuan sebagai  warisan masa lalu yang harus dikuasai itu hanya dapat dipelajari dari mulut guru? Tentu saja tidak. Dalam abad teknologi dan informasi ini siswa dapat mempelajarinya dari berbagai sumber.
Namun, demikian guru sebagai proses pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting. Bagaimanapun hebatnya teknologi maka peran guru tetap di perlukan. Bagaimana melaksanakan peran-peran guru agar proses pembelajaran yang menjadi tanggung jawab lebih berhasil? Beberapa peran guru akan dijelaskan dibawah ini.
 
  1. Guru Sebagai Sumber Belajar.
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat  dengan penguasaan materi pelajaran. Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut :
a.     Sebaiknya guru memiliki banyak referensi yang lebih banyak diandingkan dengan siswa. Hal ini untuk menjaga agar guru memiliki pemahaman yang lebih baik  tentang materi yang akan dikaji bersama siswa.
b.     Guru dapat menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata siswa yang lain.
c.      Guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran, misalnya dengan menentukan mana materi inti, yang wajib dipelajari siswa, mana materi tambahan, mana materi yang harus diingat kembali karena pernah dibahas, dan lain sebagainya.

  1. Guru Sebagai Fasilitator.
Sebagi fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipahami, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber pembelajaran.
  1. Guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut.
b.    Guru perlu mempunyai keterampilan dalam merancang suatu. Kemampuan merancang media salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional.
c.Guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar. Perkembangan teknologi informasi menuntut setiap guru untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi mutakhir.
d.    Sebagai fasilitator, guru dituntut agar mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa.

3.    Guru sebagai Pengelolah.
Sebagai pengelolah pembelajaran ( learning manajer ), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa  dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

4.    Guru sebagai Demonstrator.
Yang dimaksud dengan peran guru sebagai demonstrator adalah peran guru mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan.

  1. Guru sebagai Pembimbing.
Siswa adalah individu yang unik, keunikan ini bisa dilihat dari adanya setiap perbedaan. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan, dan sebagainya. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing. Membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas–tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orang tua dan masyarakat.
Agar seorang guru dapat menjadi pembimbing yang baik, maka ada beberapa hal yang harus dimiliki, diantaranya : Pertama, guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Kedua , guru harus memahami dan terampil dalam merencanakan, baik merencanakan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai maupun merencanakan proses pembelajaran.
  1. Guru sebagai Motivator.
Dalam proses pembelajaran, motivasi salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh karena kemampuan yang kurang, tetapi karena tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Dengan demikian siswa yang berprestasi rendah belum tentu disebabkan oleh karena kemampuan yang rendah pula, tetapi mungkin di sebabkan oleh karena tidak adanya dorongan atau motivasi. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif dalam belajar. Oleh karena itu guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Ada beberapa petunjuk yang dapat dijadikan acuan  dalam memberikan motivasi pada siswa, yaitu :
a.                    Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
b.                    Membangkitkan minat siswa.
c.                    Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.
d.                    Beri pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.
e.                    Berikan penilaian.
f.                     Berikan komentar terhadap hasil pekerjaan siswa.
g.                     Ciptakan persaingan yang kerja sama.

  1. Guru sebagai Evaluator.
Sebagai evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi dalam memerankan perannya sebagai evaluator: Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum atau pembelajaran. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.
Amsyar dan Nurtain ( 1993 ) memberikan contoh kegiatan inovasi yang dapat dilakukan di sekolah seperti manajemen berbasis sekolah.
Mulyasa ( 2002), manajemen berbasis sekolah adalah merupakan salah satu upaya pemerintah mencapai keunggulan  masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul dimasyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif, guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada disekolah. Manajemen berbasis sekolah memberikan peluang bagi kepala sekolah, guru, dan peserta didik untuk melakuan inovasi dan introvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktifitas, kreativitas, dan profesionalisme yang dimiliki. Pelibatan masyarakat dalam dewan sekolah dibawah monitoring pemerintah, mendorong sekolah untuk lebih terbuka, demokratis, dan bertanggung jawab. Pemberian kebebasan yang lebih luas memberi kemungkinan kepala sekolah untuk dapat menemukan jati dirinya dalam membina peserta didik, guru, dan petugas lain yang ada di lingkungan sekolah.
Desentralisasi pendidikan memberikan kewenangan kepala sekolah dan masyarakat setempat untuk mengelola pendidikan. Hal ini memungkinkan adanya kerja sama yang erat antara staf sekolah, kepala sekolah, guru, personil lain dan masyarakat dalam upaya pemerataan, efisiensi, efektifitas, dan peningkatan kualitas, serta produktivitas pendidikan. Model ini juga akan menyerahkan fungsi kontrol yang berada pada pemerintah kepada masyarakat melalui dewan sekolah, sementara fungsi monitoring tetap pada pemerintah. Untuk memperkaya pemahaman para pelaksana di lapangan khususnya kepala sekolah, guru, calon guru, dan dewan sekolah serta tokoh masyarakat yang bertanggung jawab dan terlibat secara langsung dalam pelaksanaan pendidikan disekolah.
Kewenangan yang bertumpuh pada sekolah merupakan inti dari manajemen berbasis sekolah yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut:
  1. Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua dan guru.
  2. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal.
  3. Efektifitas dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah,moral guru dan iklim sekolah.
  4. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan memberdayakan guru, manajemen sekolah, rancangan ulang sekolah, dan perubahan perencanaan.
Kepala sekolah merupakan seorang manajer di sekolah. Ia harus bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran disekolah. Untuk kepentingan tersebut sedikitnya terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu menilai kesesuain program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan siswa, meningkatkan perencanaan program, melilih dan melaksanakan program, serta menilai perubahan program.
Untuk menjamin efektifitas pengembangan kurikulum dan program pengajaran dalam manajemen berbasis sekolah, kepala sekolah sebagai pengelola program pengajaran bersama dengan guru-guru harus menjabarkan isi kurikulum secara lebih rincih dan operasional kedalam program tahunan, semester dan bulanan. Adapun program mingguan atau Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP), wajib dikembangkan guru dan melakukan inovasi-inovasi perangkat pembelajaran sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar. Berikut diperinci beberapa perinsip yang harus diperhatikan :
a.    Tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan, makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang dikembangkan untuk mencapau tujuan.
b.    Program itu harus sederhana dan fleksibel.
c.     Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
d.    Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan harus jelas pencapaiannya.
e.    Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.
Dalam hal itu, perlu dilakukan pembagian tugas guru, penyusunan kalender pendidikan dan jadwal pelajaran pembagian waktu yang digunakan, penetapan pelaksanaan evaluasi belajar, penetapan penilaian, penetapan norma kenaikan kelas, pencatatan kemajuan belajar peserta didik, dan peningkatan perbaikan pengajaran serta pengisian waktu kosong.
Keberhasilan manajemen berbasis sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan pimpinannya dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersediah disekolah. Dalam hal ini, peningkatan produktivitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan perilaku manusia ditempat kerja melalui aplikasi konsep dan teknik manajemen personalia modern.
Nana Sujana ( 1989 ) menyebutkan ada empat aspek utama yang harus mendapat perhatian kepala sekolah dalam pelaksanaan kurikulum disekolahnya :
1.    Adalah efektivitas  dan efisiensi proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru.
2.    Adalah efektivitas dan efisiensi pelaksanaan bimbingan penyuluhan yang dapat dilihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh pembimbing / wali kelas.
3.    Pelaksanaan administrasi kelas oleh guru.
4.    Pelaksanaan penilaian.
Manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan. Sehubungan dengan itu, fungsi personalia yang harus dilaksanakan pimpinan, adalah menarik, mengembangkan, menggaji, dan memotovasi personil guna mencapai tujuan sistem, membantu anggota mencapai posisi dan standar perilaku, memaksimalkan perkembangan karier tenaga kependidikan, serta menyelaraskan tujuan individu dan organisasi.
Manajemen tenaga kependidikan ( guru dan personil ) mencakup:
1.     Perencanaan pegawai.
2.    Pengadaan pegawai
3.    Pembinaan dan pengembangan pegawai.
4.    Promosi dan mutasi
5.    Pemberhentian pegawai
6.    Kompensasi dan
7.    Penilaian pegawai.
Semua itu perlu dilakukan dengan baik dan benar agar apa yang diharapkan tercapai, yakni tersediahnya tenaga kependidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan berkualitas.
Tugas kepala sekolah dalam kaitan dengan manajemen tenaga kependidikan bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak hanya mengusahakan tercapainya tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga kependidikan secara peribadi. Karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mengerjakan instrumen pengelolaan tenaga kependidikan seperti daftar absensi, daftar urut kepangkatan, daftar riwayat hidup, daftar riwayat pekerjaan dan kondite pegawai untuk membantu kelancaran manajemen berbasis sekolah, disekolah yang dipimpinnya.
Disamping manajemen tanaga kependidikan juga diperlukan manajemen kesiswaan (peserta didik) merupakan salah satu bidang operasional manajemen berbasis sekolah. Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan disekolah.
Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran disekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan disekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manajemen kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan siswa baru, kegiatan kemajuan belajar serta bimbingan dan pembinaan disiplin. Sutisna (1985) menjabarkan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola bidang kesiswaan berkaiatan dengan hal-hal sebagai berikut:
8.    Kehadiran siswa di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu.
9.    Penerimaan, orientasi, klasifikasi, dan penunjukkan siswa kelas dan program studi.
10. Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar
11.  Program supervisi bagi siswa yang mempunyai kelainan, seperti pengajaran, perbaikan dan pengajaran luar biasa.
12.  Pengendalian disiplin siswa.
13.  Program bimbingan dan penyuluhan,
14.  Program kesehatan dan keamanan
15.  Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional.
Tujuan pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan pengetahuan anak, tetapi juga sikap kepribadian, serta aspek sosial, emosional, di samping keterampilan-keterampilan lain. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab memberikan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi memberi bimbingan dan bantuan terhadap anak-anak yang bermasalah, baik dalam belajar, emosional, maupun sosial, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi masing-masing. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan data yang lengkap tentang peserta didik. Untuk itu, disekolah perlu dilakukan pencatatan dan ketatalaksanaan kesiswaan, dalam bentuk buku induk, buku klapper, buku laporan keadaan siswa, buku presensi siswa, buku rapor, daftar kenaikan kelas, buku mutasi, dan sebagainya.
Dalam menunjang manajemen berbasis sekolah (MBS) tidak terlepas dari manajemen keuangan dan pembiayaan yang merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Hal tersebut terasa lagi dalam implementasi manajemen berbasis sekolah, yang menuntut kemampuan sekolah untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi serrta mempertanggung jawabkan pengelolaan dana secara transfaransi kepada masyarakat dan pemerintah. Komponen keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan proses belajar mengajar di sekolah bersama komponen-komponen lain, seperti manajemen sarana dan prasarana pendidikan.
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja-kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, taman sekolah, kebun, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olah raga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan serta penataan. Manajemen sarana prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapih, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun siswa untuk berada di sekolah. Disamping itu juga diharapkan tersediahnya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif, dan relevan dengan kebutuhan serta dapat di manfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran, baik oleh guru sebagai pengajar maupun siswa sebagai pelajar. Guru yang inovatif akan dapat memanfaatkan semua jenis sumber dan alat pelajaran yang mudah diterapkan dan mudah dipahami oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Contoh lain sekolah inovatif seperti home schooling, sekolah alternative, juga sekolah alam yang memungkinkan anak belajar dengan cara masing-masing. Dalam kegiatan ini, guru membuat rencana sesuai dengan keadaan lingkungan  alam di sekitar sekolah. Sekolah-sekolah inovatif ini paling tidak harus mengikuti 3 dari 8 standar pendidikan nasional yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ; yaitu standar isi kurikulum, standar kompetensi lulusan dan standar evaluasi. Sedangkan standar proses, standar guru, standar biaya, standar sarana prasarana, itu bebas. Untuk sekolah inovatif, cara mengevaluasinya memakai pertanyaan-pertanyaan standar kompetensi yang diharuskan, bahkan mereka juga bisa ikut ujian kesetaraan dan ujian nasional sama seperti sekolah-sekolah formal. Di sini akan dilihat siswa -siswi yang sekolah lewat jalur formal dan informal itu kualitasnya sama apa tidak. Penelitian di AS menunjukkan mereka yang bersekolah di sekolah inovatif secara akademik maupun psiko sosialnya banyak yang lebih tinggi dari siswa-siswi  yang sekolah biasa.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, peran guru dalam sekolah inovatif ini adalah sebagai fasilitator proses belajar. Guru juga bisa belajar bersama-sama dengan murid untuk tempat belajarnya bisa dimana saja. Di ruang kelas, halaman, kebun, dan sebagainya. Sesekali mereka diajak keluar dari lingkup sekolah, misalnya ke kantor polisi, kantor pemadam kebakaran atau apa saja.
Pendekatan belajarnya sendiri tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi siswa. Bukan siswa untuk kurikulum, tetapi kurikulum untuk siswa. Jadi, kurikulum didesain untuk siswa dalam kondisi yang berbeda, baik perbedaan tingkat kecerdasan, kreaktivitas, cacat fisik, kebutuhan, pertumbuhan dan perkembangan kognitif.


 

BAB III
PENUTUP

Setelah penulis menyelesaikan makalah ini ada beberapa point yang dapat disimpulkan yang berhubungan dengan sekolah yang inovatif yakni:
1.        Pendidikan di Indonesia ini masih sangat bersifat konvensional dimana guru selalu memberi pelajaran dari siswa hanya mendengarkan. Hal-hal seperti ini yang menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia. Untuk itu, saat ini dikembangkan sekolah-sekolah inovatif baik di sekolah formal maupun informal. Usaha ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
2.        Sekolah inovatif adalah sekolah yang memberi kebebasan siswa untuk berkreasi atau kreaktif, mengekspresikan perasaannya dan sebagainya. Sekolah lebih menekankan pemahaman, kemampuan tertentu pada peserta didik yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada dimasyarakat
3.        Sekolah-sekolah yang inovatif mengutamakan :
a.    Relevansi.
b.    Mutu.
c.    Efisiensi
d.    Efektifitas
e.    Struktur Pendidikan Guru
f.       Mengoptimalkan Peranan Guru dalam Proses Pembelajaran
4.        Manajemen berbasis sekolah meliputi:
a.    Manajemen kurikulum dan program pengajaran
b.    Manajemen tenaga kependidikan
c.    Manajemen kesiswaan
d.    Manajemen keuangan dan pembiayaan
e.    Manajemen sarana dan prasarana
5.        Keberhasilan manajemen berbasis sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan pimpinannya dalam mengelola sumber daya yang  tersedia disekolah terutama tenaga kependidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Amsyar, M. dan Nurtain, ( 1993 ), Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Diperbanyak oleh P2LPK Depdikbud, Jakarta.
Mulyasa, E., ( 2006 ), Kurikulum Berbasisi Kompetensi  Konsep, Karaktristik, dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
---------,.  ( 2002 ), Manajemen  Berbasisi Sekolah Konsep Strategi dan Implikasi. Bandung  : Remaja Rosdakarya
Sanjaya, Wina  ( 2006), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana , Prenada Media Group.
Sujana, Nana, ( 1989 ), Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung : Sinar Baru.
Susilana, Rudi,  ( 2006 ), Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung :Jurusan Kurtekpen FIP UPI.